Mengenal Kisah dan Riwayat Hidup Tokoh Pewayangan: Sweta – Pangeran Kerajaan Matsya

Pewayangan288 Dilihat
Tokoh Pewayangan Sweta

Sweta (Dewanagari: श्वेत)
adalah nama salah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata. Sweta merupakan pangeran dari
Kerajaan Matsya dan bertempur di pihak Pandawa dalam perang besar di
Kurukshetra. Tokoh ini juga dikenal dalam pewayangan Jawa dengan sebutan Arya
Seta. Dalam versi ini, ia dikisahkan sebagai panglima pertama pasukan Pandawa
dalam perang Baratayuda, yang akhirnya gugur di tangan Bisma.

Versi Lain

  • Versi Mahabharata

Menurut versi asli, yaitu wiracarita Mahabharata, Sweta
merupakan putra sulung Wirata, raja Kerajaan Matsya yang lahir dari istri
pertama, yaitu Ratu Surata. Ia memiliki dua orang saudara beda ibu, bernama
Utara dan Sangka (Wratsangka), serta seorang saudari bernama Utari yang menikah
dengan Abimanyu putra Arjuna.

Ketika perang Kurukshetra meletus, Sweta bersama seluruh
keluarga Kerajaan Matsya berpihak kepada para Pandawa. Bahkan, Sweta diangkat
sebagai panglima perang pasukan Pandawa. Pada hari pertama, Utara gugur di
tangan Salya, penguasa Madra. Melihat saudaranya tewas, Sweta segera menyerang
Salya. Salya terdesak dibuatnya. Namun ia berhasil diselamatkan oleh
Kertawarma.

Putra Salya yang bernama Rukmarata mencoba untuk menolong
ayahnya. Namun ia jatuh pingsan terkana senjata Sweta. Sekutu-sekutu Korawa
lainnya bergerak menghadapi Sweta, tetapi tidak ada yang mampu menaklukkan
putra Wirata tersebut. Korban di pihak Korawa semakin berjatuhan akibat amukan
Sweta. Bisma selaku panglima pasukan Korawa tampil menghadapi Sweta. Perang
tanding antara keduanya berlangsung seru. Akhirnya Sweta tewas terkena panah
Bisma. Menurut versi ini, kematian putra Wirata yang lain, yaitu Sangka,
terjadi pada hari berikutnya. Sangka tewas di tangan Drona, guru para Korawa
dan Pandawa.

  • Versi Bharatayuddha

Naskah Kakawin Bharatayuddha ditulis pada tahun 1157 pada
zaman pemerintahan Maharaja Jayabaya di Kerajaan Kediri. Kitab ini berisi
tentang perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa, yang bersumber
dari naskah Mahabharata. Jika menurut versi Mahabharata, panglima perang pasukan
Pandawa sejak hari pertama sampai terakhir adalah Drestadyumna, maka menurut
versi Bharatayuddha, panglima pihak Pandawa pada hari pertama adalah Sweta.

Pada hari pertama pertempuran, Sweta menyusun formasi
pasukan Bajratiksnabyuha yang berbentuk laksana badai dan halilintar. Sementara
itu pasukan Korawa yang dipimpin Bisma menggunakan formasi Wukirsagarabyuha
yang berbentuk seperti gunung kokoh dilindungi lautan luas. Pertempuran hari
pertama berlangsung seru. Kedua adik Sweta, yaitu Utara dan Wira Sangka
(Wratsangka) masing-masing tewas di tangan Salya dan Drona. Menyadari hal itu,
Sweta pun marah dan memburu Salya. Tapi Salya berhasil diselamatkan oleh
Kretawarma. Namun, putra Salya yang bernama Rukmarata tewas di tangan Sweta.

Sama dengan versi aslinya, Sweta akhirnya gugur di tangan
Bisma. Setelah kematian Sweta, pihak Pandawa mengangkat Drestadyumna sebagai
panglima yang baru.

  • Versi pewayangan Jawa

Sweta dalam pewayangan Jawa dikenal dengan nama Arya Seta.
Ia dilukiskan bertubuh gagah, serta berkulit putih bersih. Ia merupakan putra
sulung Matsyapati raja Kerajaan Wirata. Seta menikah dengan bidadari bernama
Kanekawati, putri Narada yang pernah turun ke dunia menyamar sebagai raja
bernama Kanekanata. Perkawinan ini terjadi berkat bantuan Abyasa (Byasa) yang
waktu itu menjabat sebagai raja sementara di Hastinapura. menurut versi ini,
Abyasa adalah sepupu Seta. Adapun Abyasa adalah kakek para Pandawa dan Korawa.

Seta juga terkenal sakti. Ia memiliki ajian bernama
Narantaka. Konon, barangsiapa terkena pukulannya pasti akan segera binasa saat
itu juga. Ilmu kesaktian ini kemudian diwariskan kepada Gatotkaca, putra
Bimasena, atau cicit Abyasa yang berguru kepadanya.

Versi pewayangan yang merujuk kepada naskah Bharatayuddha,
antara lain mengisahkan bahwa panglima perang pihak Pandawa yang mula-mula
dipilih adalah Seta. Sama halnya dengan versi-versi yang lainnya, Seta
dikisahkan gugur di tangan Bisma, setelah kematian kedua adiknya, yaitu Utara
dan Wratsangka.

 

Sumber: Wikipedia

Komentar