Biografi Tokoh Pewayangan: Bagawan Drona atau Dorna

Pewayangan99 Dilihat
Dronacarya

Drona atau Dronacarya (Dewanagari: द्रोणाचार्य: Droṇācārya; arti harfiah: “Guru
Drona”) adalah salah satu tokoh dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan
seorang brahmana (ahli agama), suami Krepi, dan ayah Aswatama. Ia dikisahkan
sebagai guru keraton Hastinapura yang mendidik para pangeran Dinasti Kuru, yang
terdiri dari seratus Korawa dan lima Pandawa. Sebagai guru para pangeran, ia
merupakan ahli seni pertempuran, termasuk pengendalian dewāstra (senjata
sakti). Di antara para pangeran Kuru, Arjuna adalah murid kesayangannya.

Saat konflik antara Korawa dan Pandawa tak dapat didamaikan,
mereka memutuskan untuk berperang, dengan lapangan Kurukshetra sebagai
medannya. Dalam perang Kurukshetra, Drona berpihak kepada Korawa, yang telah
memberinya nafkah dan tempat bernaung. Setelah Panglima Bisma kalah, ia
menjabat sebagai panglima pada hari ke-11 sampai ke-15. Pada hari ke-15, ia
mendengar kabar palsu tentang kematian putranya, sehingga semangat bertarungnya
pupus dan memutuskan untuk bermeditasi. Dalam kondisi tersebut, kepalanya
dipenggal oleh Drestadyumna, panglima laskar Pandawa.


Riwayat

Dalam kitab Adiparwa dikisahkan bahwa Drona dilahirkan dalam
keluarga brahmana (kaum pendeta Hindu). Ia merupakan putra dari pendeta
Bharadwaja. Kisah kelahiran Drona diceritakan secara dramatis dalam
Mahabharata. Dikisahkan bahwa Bharadwaja pergi ke sungai Gangga untuk melakukan
penyucian diri. Di sana ia melihat bidadari Gretaci yang sangat cantik sedang
mandi. Menyaksikan pemandangan tersebut, sang pendeta dikuasai nafsu, sampai
mengeluarkan air mani yang sangat banyak. Ia menampung air mani tersebut di dalam
sebuah bejana. Dari cairan tersebut, tumbuhlah sebuah janin, yang kian
berkembang hingga membentuk seorang bayi. Bayi tersebut kemudian dibesarkan dan
diberi nama Drona.

Bhagawan Drona atau Dorna (dibaca Durna) waktu muda bernama
Bambang Kumbayana, putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan, dengan Dewi
Kumbini. Ia mempunyai saudara seayah seibu bernama Arya Kumbayaka dan Dewi
Kumbayani. Dalam perjalanannya mencari Sucitra (Drupada), ia tidak dapat
menyeberang sungai dan ditolong oleh seekor kuda terbang jelmaan Dewi Wilutama,
yang dikutuk oleh dewa. Kutukan itu akan berakhir apabila ada seorang kesatria
mencintainya dengan tulus. Karena pertolongannya, maka sang Kumbayana menepati
janjinya untuk mencintai kuda betina itu. Namun karena terbawa nafsu, Kumbayana
bersetubuh dengan kuda Wilutama hingga mengandung, dan kelak melahirkan seorang
putra berwajah tampan tetapi mempunyai kaki seperti kuda (bersepatu kuda), yang
kemudian diberi nama Bambang Aswatama.

Setelah bertemu Sucitra yang telah menjadi raja dan bergelar
Prabu Drupada, ia tidak diakui sebagai saudara seperguruannya. Kumbayana marah
merasa dihina, kemudian balik menghina Raja Drupada. Namun Mahapatih Gandamana
(dulu adalah patih di Hastinapura saat pemerintahan Pandu) menjadi murka
sehingga terjadi peperangan yang tidak seimbang. Meskipun Kumbayana sakti,
ternyata kesaktiannya masih jauh di bawah Gandamana yang memiliki kekuatan
setara dengan seribu gajah (ajian ini diturunkan pada murid tercintanya, Raden
Bratasena). Kumbayana menjadi bulan-bulanan sehingga wajahnya rusak. Namun dia
tidak mati dan ditolong oleh Sangkuni yang bernasib sama (baca sempalan
Mahabharata yang berjudul Gandamana Luweng). Akhirnya ia diterima di
Hastinapura dan dipercaya mendidik anak-anak keturunan Sentanu (Pandawa dan Korawa).

Dalam perang Bharatayuddha, Resi Drona diangkat menjadi
Senapati Agung Korawa, setelah gugurnya Bisma. Ia sangat mahir dalam siasat
perang dan selalu tepat menentukan formasi perang. Resi Drona gugur di medan
pertempuran oleh tebasan pedang Drestadyumna, putra Prabu Drupada. Menurut
cerita pewayangan, kematian Resi Drona diakibatkan oleh dendam Prabu Ekalaya,
raja negara Parangggelung yang arwahnya merasuki tubuh Drestadyumena. Namun
menurut Mahabharata, kejadian itu disebabkan oleh taktik perang yang
dilancarkan oleh pihak Pandawa dengan tipu muslihat karena kerepotan menghadapi
kesaktian dan kedigjayaan sang resi.


Versi Lain

Drona dalam pewayangan Jawa

Riwayat hidup Drona dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa
perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab Mahabharata yang berasal dari Tanah
Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sanskerta. Beberapa perbedaan tersebut
meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak
terlalu besar sebab inti ceritanya sama. Perlu digarisbawahi juga, bahwa
kepribadian Drona dalam Mahabharata berbeda dengan versi pewayangan. Dalam
pewayangan, Resi Drona diceritakan sebagai orang yang berwatak tinggi hati,
sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan,
kepandaian dan kesaktiannnya luar biasa serta sangat mahir dalam berperang.
Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Drona dipercaya
menjadi guru anak-anak Pandawa dan Korawa. Ia mempunyai pusaka sakti berwujud
keris bernama Keris Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna).


Akhir Kisah

Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, “Hal yang
membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu
kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya”. Berpedoman
kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bima untuk membunuh seekor
gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putra Bagawan Drona. Bima
berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa
Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan
kejujurannya. Yudistira hanya berkata, “Aswatama mati”. Sebetulnya
Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswatama mati,
entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, “naro va,
kunjaro va” – “entah gajah atau manusia”). Gajah bernama
Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa
mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan
Korawa bisa dikalahkan dalam perang Bharatayuddha.

Dalam Versi lain dikisahkan Drona gugur di medan pertempuran
oleh tebasan pedang Drestadyumna, putra Prabu Drupada, yang memenggal putus
kepalanya. Konon kematian Resi Drona akibat dendam Prabu Ekalaya raja negara
Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestadyumna.

Komentar