Dr. Soetomo: Pelopor Organisasi Pergerakan Nasional Modern

Nasional96 Dilihat
dr. Soetomo atau Soebroto (30 Juli 1888 – 30 Mei 1938 ) adalah tokoh pendiri Budi Utomo

Biografi

Lahir: 30 Juli 1888 – Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Keresidenan Kediri, Hindia Belanda

Meninggal: 30 Mei 1938 (umur 49) – Surabaya, Jawa Timur, Hindia Belanda

Kebangsaan: Hindia Belanda

Dr. Sutomo merupakan sosok penggagas berdirinya organisasi modern pertama di Indonesia yang bernama Budi Utomo, berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 sekaligus menjadi awal rakyatnya pergerakan nasional bangsa Indonesia untuk memerdekakan diri.

Diketahui lahirnya Budi Utomo disusul oleh pendiri sejumlah organisasi bahkan partai politik yang keras menentang penindasan kolonial Belanda. Dr. Soetomo lahir di ngepeh Loceret Nganjuk Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888 dengan nama kecil Subroto Soetomo lahir di keluarga priyayi zaman itu. Ayahnya bernama Raden suwaji, seorang pegawai pengarah yang berpikir maju dan modern sementara kakeknya bernama Raden Ngabehi Singawijaya atau KH Abdurrakhman, Sutomo dididik untuk menjadi seorang yang taat beragama dan beribadah dan memiliki pendirian yang Teguh. 

Pendidikan

Memasuki usia 6 tahun Sutomo dan keluarga pindah ke Madiun, disana Sutomo sekolah di sekolah rendah Bumiputera Pati Madiun, berikutnya Sutomo melanjutkan sekolah di Europeesche Lagere School atau Els bagian Jawa Timur. Di sekolah Sutomo mengganti namanya dari yang awalnya Subroto lulus dari Els Sutomo ber kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah dokter Bumiputera atau School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, Soetomo resmi menjadi siswa di stovia pada tanggal 10 januari 1903 saat itu usianya genap 15 tahun.

Konon Soetomo pada awal masa pendidikannya dikenal sebagai sosok yang berani, malas belajar dan suka mencari masalah. Kondisi tersebut membuat hasil kurang memuaskan pada tahun-tahun awal di stovia. Namun sikap Sutomo berubah drastis memasuki tahun ke-4 di sekolah tersebut.

Perubahan sikap dan cara hidup Sutomo ke arah yang lebih baik Semakin menjadi saat ayahnya meninggal dunia pada tanggal 28 Juli 1907, sejak itu menjadi sosok yang memiliki jiwa sosial tinggi dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya dengan Dr. Wahidin Sudirohusodo yang merupakan alumni stovia. Dokter Wahidin saat itu berkunjung ke stovia dan bertemu dengan para mahasiswa termasuk dalam pertemuan itu Dokter Wahidin mengemukakan gagasan untuk mendirikan organisasi yang menjadi wadah untuk mengangkat derajat bangsa 

Gagasan Dokter Wahidin itu ditangkap dan diteruskan dan direnungkan oleh Sutomo berikutnya Sutomo bersama dengan mahasiswa lain seperti Gunawan Mangunkusumo dan Soeradji Tirtonegoro secara Intens melakukan diskusi hingga akhirnya Soetomo dan dua orang itu mengadakan pertemuan dengan mahasiswa stovia lainnya untuk membahas pendirian organisasi, pertemuan dilakukan di ruang anatomi stovia dan menghasilkan pendirian organisasi bernama Perkumpulan Budi Utomo 

Maka Budi Utomo didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 tanggal itu hingga kini diperingati sebagai hari kebangkitan nasional dan perjuangan Dr. Sutomo merampungkan studinya di stovia pada tahun 1911 

Sejak saat itu Sutomo resmi menjadi Doktor dan berpindah-pindah tugas dari satu daerah ke daerah lainnya juga tercatat sebagai salah satu tenaga medis yang menangani wabah pas di Malang, dalam menjalankan tugas mengobati rakyat Soetomo tidak pernah memungut biaya 

Menikah 

Pada tahun 1917 Soetomo menikah dengan seorang perawat Belanda, 2 tahun kemudian dia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi hingga tahun 1923 di Belanda Sutomo bergabung dengan Indische vereeniging yang kemudian menjelma menjadi Perhimpunan Indonesia.

Organisasi

Dr. Sutomo dipercaya untuk memimpin Perhimpunan Indonesia sepulangnya ke tanah air Sutomo bekerja sebagai dosen di Nederland Indische artsen atau Nias di Surabaya Sutomo juga mendirikan Indonesische Studie Club atau ISC pada tahun 1902 mengalami perkembangan pesat sejak didirikan maka pada tahun 1930 namanya diganti menjadi persatuan Bahasa Indonesia atau PBB melalui PBB Sutomo banyak membantu rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka

Wafat

Namun, Sutomo tidak sempat menyaksikan kemerdekaan dan terbebas dari penjajah, Dr. Sutomo meninggal dunia di Surabaya pada tanggal 30 Mei 1938 dan dimakamkan di Bubutan Surabaya untuk mengenang jasa-jasanya Dokter Sutomo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 27 Desember 1961. 

Komentar