Silsilah, Perjalanan Hidup dan Riwayat Sunan Ampel atau As Sayyid Raden Muhammad Ali Rahmatullah

Agama313 Dilihat
Sunan Ampel 

Silsilah, Perjalanan Hidup dan Riwayat Sunan Ampel atau As Sayyid Raden Muhammad Ali Rahmatullah

Biografi 

Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Lahir pada tahun 1401 di Kerajaan Champa tepatnya di kota Phan Thiết, Vietnam. Menurut Encyclopedia Van Nederlandesh Indie diketahui bahwa Kerajaan Champa adalah satu kerajaan kuno yang terletak di Vietnam hingga Laos sekarang.

Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.

As Sayyid Raden Muhammad Ali Rahmatullah

Lahir 

Lahir Phan Thiết, Kerajaan Champa 1401

Meninggal Surabaya, Majapahit 1481

Agama Islam

Orang tua

  • Ayah: Syekh Ibrahim Zainuddin as-Samarqandi
  • Ibu: Dyah Candrawulan

Pasangan

Isteri pertama: Dyah Candrawati alias Nyai Ageng Manila binti Arya Teja Al-Abbasyi, berputera:

  • Maulana Mahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang/Bong Ang
  • Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Drajat
  • Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
  • Siti Muthmainnah
  • Siti Hafsah

Isteri kedua: Dyah Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:

  • Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri
  • Dewi Asyiqah/ Istri Raden Patah
  • Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
  • Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
  • Pangeran Tumapel / Pangeran Lamongan/ Sayyid Maulana Hamzah, ayah dari Sunan Tembayat.
  • Raden Faqih (Sunan Ampel 2)

Silsilah 

– As-Sayyid Ahmad Rahmatullah

– Ahmad asep abdul aziz

– As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy

– As-Sayyid Husain Jamaluddin bin

– As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin

– As-Sayyid Abdullah bin

– As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin

– As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin

– As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin

– As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin

– As-Sayyid Alwi bin

– As-Sayyid Muhammad bin

– As-Sayyid Alwi bin

– As-Sayyid Ubaidillah bin

– Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin

– Al-Imam Isa Ar-Rumi bin

– Al-Imam Muhammad An-Naqib bin

– Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin

– Al-Imam Ja’far Shadiq bin

– Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin

– Al-Imam Ali Zainal Abidin bin

– Al-Imam Al-Husain bin

– Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti

– Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Filsafat

Moh limo / Mohlimo atau Molimo. Yang memiliki makna Moh (tidak mau) sedangkan limo (lima), adalah falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat pada zaman itu yaitu:

  1. Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya.
  2. Moh Main: tidak mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya.
  3. Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya.
  4. Moh Madat: tidak mau memakai narkoba dan sejenisnya.
  5. Moh Maling: tidak mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.

Sejarah dan Napak Tilas Dakwah 

Di lansir dari situs Wikipedia. Syekh Jumadil Qubro, dan kedua anaknya, Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak bersama sama datang ke pulau Jawa. Setelah itu mereka berpisah, Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan, dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudra Pasai.

Di Kerajaan Champa, Maulana Malik Ibrahim berhasil mengislamkan raja Champa, yang akhirnya mengubah Kerajaan Champa menjadi kerajaan Islam. Akhirnya dia dijodohkan dengan putri raja Champa (adik Dyah Dwarawati), dan lahirlah Raden Rahmat. Di kemudian hari Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa tanpa diikuti keluarganya.

Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dyah Dwarawati. Dyah Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bergelar Bhre Kertabhumi.

Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu:

  1. Putri Nyai Ageng Maloka,
  2. Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang),
  3. Syarifuddin (Sunan Drajat)
  4. Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.

Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak. Dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan perjuangan dakwah dia di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah.Sehingga Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat menjadi Imam Masjid Agung tersebut yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro).

Wafat 

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Komentar