Biografi Cut Nyak Dhien: Pahlawan Nasional Perempuan dan Tekad Kuat Melawan Belanda

Nasional130 Dilihat
Cut Nyak Dhien

Biografi Cut Nyak Dhien: Pahlawan Nasional Perempuan dan Tekad Kuat Melawan Belanda

Cut Nyak Dien adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dari Aceh, yang terkenal karena perlawanan gerilya terhadap pasukan Belanda. Ia lahir di lampadang kerajaan Aceh pada tahun 1848, dan wafat di Sumedang, Jawa Barat pada tanggal 6 November 1908, dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.

Biografi

Lahir : 1848, Kesultanan Aceh Lampadang, Kesultanan Aceh
Meninggal : 6 November 1908 (1848 – 1908, umur 59–60 tahun), Belanda Sumedang, Hindia Belanda
Sebab meninggal : Meninggal karena sakit-sakitan setelah diasingkan oleh Belanda.
Tempat pemakaman : Komplek Makam Cut Nyak Dhien, Sumedang, Jawa Barat (6°51′47.7″S 107°54′59.1″E)
Nama lain : Ibu Perbu / Ibu Ratu / Ibu Suci (Sumedang)
Dikenal atas : Pahlawan Nasional Indonesia
Gerakan politik : Perang Aceh dengan Belanda
Lawan politik : Belanda Belanda
Suami/istri :Ibrahim Lamnga, Teuku Umar
Anak : Cut Gambang
Orang tua : Teuku Nanta Seutia
Kerabat: Teuku Mayet Di Tiro (Menantu)
                 Hasan Di Tiro (Cicit)
Keluarga : Teuku Rayut (Saudara Kandung

Perjuangan Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau. Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman.

Cut nyak Dhien diajarkan pendidikan pada bidang agama dan rumah tangga di masa kecilnya, Ia memang dikenal sebagai gadis yang cantik, jadi tidak heran jika kala itu ia disukai oleh banyak laki-laki. Kemudian cut nyak Dhien menikah dengan Teuku cek Ibrahim lamnga, seorang bangsawan Aceh tepat pada tahun 1863. Namun, pada tahun 1873 Belanda menyatakan perang terhadap Aceh, Cut Nyak Dhien kehilangan suaminya saat tewas dalam serangan melawan pasukan Belanda.

Pada tahun 1878 akibat sepeninggal suaminya cut nyak Dhien menyatakan tekadnya untuk memerangi Belanda, Ia melakukan perlawanan dan kemudian menikah dengan Teuku Umar sesama pejuang Aceh. Pada tahun 1880 dalam perlawanannya, Teuku Umar sempat berpura-pura menyerah kepada Belanda untuk mendapatkan senjata dan perlengkapan.

Sebelum kembali berjuang melawan Belanda, demi melancarkan aksinya untuk menangkap Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar, Belanda akhirnya mengirim unit mereka. Ussy unit ini didominasi orang Tionghoa Ambon yang dikenal susah ditaklukan oleh orang Aceh, pasukan ini mengepung dan menewaskan Teuku Umar.

Akhir Perjuangan Cut Nyak Dhien

Cut nyak Dhien terus melawan hingga tahun 1901, saat itu salah seorang pengikutnya merasa iba dengan kondisi Cut Nyak Dhien yang rabun dan sakit-sakitan. Ia pun memberitahukan lokasi cut nyak Dhien kepada Belanda, dengan syarat cut nyak Dhien ditangkap namun diperlakukan dengan baik. Akhirnya cut nyak Dhien tertangkap setelah dikepung Belanda dan diasingkan ke Sumedang Jawa Barat.

Cut nyak Dhien ditahan bersama ulama bernama Ilyas, ulama tersebut segera menyadari bahwa Cut Nyak Dien adalah ahli dalam agama Islam, hal tersebut membuat Cut Nyak Dien dijuluki dengan ibu perbu. Tepat pada tanggal 6 November 1982 Nyak Dien meninggal karena faktor usia yang telah tua.

Makam Cut Nyak Dien sendiri baru ditemukan pada tahun 1959, itupun karena permintaan Gubernur Aceh kala itu, Ali Hasan. Cut nyak Dhien sendiri baru pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno sebagai di anugerahi sebagai pahlawan nasional Indonesia melalui SK Presiden RI Nomor 106 tahun 1964 pada tanggal 2 mei 1964.

#Biografitokoh #pahlawannasional

Komentar