Sejarah dan Keistimewaan Dyah Ayu Sri Maharatu Mahadewi (Ken Dedes – ꦏꦺꦤ꧀ꦝꦼꦝꦼꦱ꧀)

Pewayangan316 Dilihat
Arca Ken Dedes

Sejarah dan Keistimewaan Dyah Ayu Sri Maharatu Mahadewi (Ken Dedes – ꦏꦺꦤ꧀ꦝꦼꦝꦼꦱ꧀)

Ken Dedes (Jawa: ꦏꦺꦤ꧀ꦝꦼꦝꦼꦱ꧀, Kèn Ḍĕḍĕs) adalah nama permaisuri dari Ken Arok pendiri Kerajaan
Tumapel (Singhasari). Ia kemudian dianggap sebagai leluhur raja-raja yang
berkuasa di Jawa, nenek moyang wangsa Rajasa, trah yang berkuasa di Singhasari
dan Majapahit. Tradisi lokal menyebutkan ia sebagai perempuan yang maharupa,
perwujudan kecantikan yang sempurna.

Perkawinan Pertama

Menurut Pararaton, Ken Dedes adalah putri dari Mpu Purwa,
seorang pendeta Buddha aliran Mahayana dari desa Panawijen. Pada suatu hari
Tunggul Ametung akuwu Tumapel singgah di rumahnya. Tunggul Ametung jatuh hati
padanya dan segera mempersunting gadis itu. Karena saat itu ayahnya sedang
berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu. Namun
Tunggul Ametung tidak kuasa menahan diri. Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan
paksa ke Tumapel untuk dinikahi.

Ketika Mpu Purwa pulang ke rumah, ia marah mendapati
putrinya telah diculik. Ia pun mengutuk “Hai orang yang melarikan anak ku,
semoga tidak mengenyam kenikmatan, matilah dia dibunuh dengan keris. demikian
juga orang-orang Panawijen, keringlah sumurnya, semoga tidak keluar air dari kolamnya”.

Perkawinan Kedua

Interpretasi modern tentang sosok Ken Arok dan Ken Dedes.

Tunggul Ametung memiliki pengawal kepercayaan bernama Ken
Arok. Pada suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan
Baboji. Ketika turun dari kereta, kain Ken Dedes tersingkap sehingga auratnya
yang bersinar terlihat oleh Ken Arok.

Ken Arok menyampaikan hal itu kepada gurunya, yang bernama
Lohgawe, seorang pendeta dari India. Menurut Lohgawe, wanita dengan ciri-ciri
seperti itu disebut sebagai Stri Nariçwari yang diramalkan akan menurunkan
raja-raja di Tanah Jawa. Mendengar ramalan tersebut, Ken Arok semakin berhasrat
untuk menyingkirkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes untuk menjadi Raja.

Maka, dengan menggunakan keris buatan Mpu Gandring, Ken Arok
berhasil membunuh Tunggul Ametung sewaktu tidur. Yang dijadikan kambing hitam
adalah rekan kerjanya, sesama pengawal bernama Kebo Hijo. Ken Arok kemudian
menikahi Ken Dedes, bahkan menjadi akuwu baru di Tumapel. Ken Dedes sendiri
saat itu sedang dalam keadaan mengandung anak Tunggul Ametung.

Keturunan Ken Dedes

Lebih lanjut Pararaton menceritakan keberhasilan Ken Arok
menggulingkan Kertajaya Raja Kediri tahun 1222, dan memerdekakan Tumapel
menjadi sebuah kerajaan baru. Dari perkawinannya dengan Ken Arok, lahir
beberapa orang anak yaitu, Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan
Dewi Rimbu. Sedangkan dari perkawinan pertama dengan Tunggul Ametung, Ken Dedes
dikaruniai seorang putra bernama Anusapati.

Seiring berjalannya waktu, Anusapati merasa dianaktirikan
oleh Ken Arok. Setelah mendesak ibunya, akhirnya ia tahu kalau dirinya bukan
anak kandung Ken Arok. Bahkan, Anusapati juga diberi tahu kalau ayah kandungnya
telah mati dibunuh Ken Arok.

Maka, dengan menggunakan tangan pembantunya, Anusapati
membalas dendam dengan membunuh Ken Arok pada tahun 1247.

Keistimewaan Ken Dedes

Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam naskah Pararaton yang
ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga
kebenarannya cukup diragukan. Namanya sama sekali tidak terdapat dalam
Nagarakretagama atau prasasti apa pun. Mungkin pengarang Pararaton ingin
menciptakan sosok leluhur Majapahit yang istimewa, yaitu seorang wanita yang
bersinar auratnya.

Keistimewaan merupakan syarat mutlak yang didambakan masyarakat
Jawa dalam diri seorang pemimpin atau leluhurnya. Masyarakat Jawa percaya kalau
raja adalah pilihan Tuhan. Ken Dedes sendiri merupakan leluhur raja-raja
Majapahit versi Pararaton. Maka, ia pun dikisahkan sejak awal sudah memiliki
tanda-tanda sebagai wanita nareswari. Selain itu dikatakan pula kalau ia
sebagai seorang penganut Buddha yang telah menguasai ilmu karma amamadang, atau
cara untuk lepas dari samsara.

Dalam kisah kematian Ken Arok dapat ditarik kesimpulan kalau
Ken Dedes merupakan saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru
rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu. Hal ini membuktikan kalau antara Ken
Dedes dan Ken Arok sesungguhnya saling mencintai, sehingga ia pun mendukung
rencana pembunuhan Tunggul Ametung. Perlu diingat pula kalau perkawinan Ken
Dedes dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.

Tahun kelahiran dan kematian Ken Dedes tidak tercatat dalam
naskah dan prasasti manapun.

Komentar